Sabtu, 01 November 2014

Ustad-ustad Gendut

Saya perhatikan ustad-ustad sekarang banyak yang bertubuh gendut. Kadang untuk sekedar bernapas dan duduk saja susah. Saya sempat berpikir; mengapa mereka tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuh? Padahal setiap saat mereka menyampaikan nasehat agama pada jama'ah. Apakah menjaga keseimbangan tubuh bukan sunnah Nabi?

Saya jadi teringat cerita mengenai Abu Hanifah. Diceritakan pada suatu hari kambing-kambing hasil garong (ganam al-gaarah) bercampur dengan kambing penduduk Kufah. Abu Hanifah kemudian menanyai penduduk kira-kira berapa lama kambing-kambing itu akan mati. Mereka memberitahu sekitar tujuh tahun. Selama itu pula Abu Hanifah menahan diri dari makan daging kambing.

Cerita Abu Hanifah memang tidak ada kaitan langsung dengan ustad-ustad gendut. Tapi paling tidak ada serempet pelajaran yang patut dihikmahi. Bahwa walau Abu Hanifah dapat merasionalisasi untuk memakan daging kambing, tapi beliau tetap tidak melakukannya. Ustad-ustad bertubuh gendut yang tidak mampu menjaga keseimbangan setahu saya adalah produk rasionalisasi. Wallahu A'lam.

Di atas Hukum Agama dan Adat ada Konstitusi Negara.

Di atas hukum agama dan adat ada konstitusi negara. Itu yang dikatakan ketua Gerakan Pemuda Anshor, Nusron Wahid. Orang banyak protes. FPI geram. Innaa lillah sahut mereka. Kalau orang banyak baca, pernyataan Nosron itu tidaklah unik. Tahun 1500-an Machiavelli sudah berpendapat begitu. Agama tidak boleh menguasai negara, sebaliknya negaralah yang mendominasi agama.

Hobbes (w. 1679 M), Spinoza (w. 1677 M), dan lain-lain juga memberi pernyataan yang sama. Ada semacam trauma abad tengah; dominasi agama atas negara menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Membawa pada kegelapan. Nyatanya bukan agama yang berkuasa, tapi manusia. Otoritas yang besar untuk menafsirkan agama membuat gereja bertindak tiran dan sewenang-wenang. Inilah salah satu alasan munculnya gerakan reformasi di Barat yang dimotori Martin Luther (w. 1546 M) mengusung demokratisasi religius. Keimanan yang subjektif.

Pernyataan Nusron harusnya dicermati dengan sabar. Dia tidak menempatkan konstitusi sebagai pedoman tertinggi individu. Tapi pedoman tertinggi dalam hidup bersama, bernegara. Semacam titik temu (common denominator) agar tidak bentrok karena saling klaim kebenaran. Semacam lampu merah di perempatan; baik orang beragama Islam, Kristen, Hindu, atau Atheis sekalipun, harus berhenti. Tidak boleh merasa hebat. Mentang-mentang Islam dominan, lantas menerobos sekehendaknya. Ini namanya tirani mayoritas.

Bagi individu beragama, khususnya Islam, pedoman tertinggi tetap al-Qur'an. Tidak akan hilang. Kalaupun al-Qur'an mau ditempatkan sebagai konstitusi; menaungi kehidupan semua, harus melalui proses dan prosedur yang legal. Sayangnya, orang Islam sendiri banyak yang tidak menyadari, bahwa pancasila, sebagai norma objektif konstitusi negara, sebagian besar adalah objektivikasi ajaran al-Qur'an. Bahkan dalam banyak kalimatnya, mengadopsi sumber-sumber Islam; misal kata adil, beradab, rakyat (ra'iyyah), hikmat, musyawarah, wakil, dll.

Kita para pembaca/pemirsa kadang malas berpikir. Sedikit diprovokasi sudah melonjak marah. Ada semacam pembentukan imej dalam perebutan wacana. Mengatakan "di atas hukum agama dan adat ada konstitusi negara," ditafsirkan sebagai pelecehan agama. Konstitusi lebih tinggi dari agama. Kalau mati jangan dibacakan Yasin (NU), tapi baca konstitusi negara saja. Ini namanya reaktif. Emosional. Sebenarnya tidak ada yang dilecehkan. Dalam kehidupan besama, itulah filsafat hidup yang dianut Indonesia. Begitu juga dalam kehidupan bersama di dunia (kosmopolitan); bukan al-Qur'an atau Injil yang mengatasinya.

Kutukan Yudhistira pada Perempuan

Waktu makan di angkringan sempat liat Mahabharata. Pas adegan Dewi Kunti memberitahu Karna bahwa dia adalah anaknya. Karena banyak makan jasa Duryudanya, Karna akhirnya tetap berpihak pada Kurawa. Dan janjinya pada Kunti, dia hanya akan membunuh Arjuna. Hingga kalau di antara mereka ada yang mati, Pandawa masih tetap berjumlah lima.

Ceritanya, ketika perang usai; di mana Dewi Kunti sangat bersedih meratapi kematian Karna; Yudhistira turut larut dalam kesedihan. Perang saudara terjadi akibat kuatnya Dewi Kunti menyimpan rahasia. Jika dari dulu Pandawa tahu kalau Karna adalah saudara sulungnya, tidak akan terjadi bunuh-bunuhan. Oleh karena itu Yudhistira bersumpah; bahwa para perempuan nantinya tidak akan lagi bisa memegang rahasia.

Bagi yang percaya cerita Mahabharata; jangan sekali-kali menceritakan suatu rahasia pada perempuan. Mereka semua telah dikutuk Yudhistira. Cukup simpan sendiri dalam hati. Kalaupun tidak tahan pengin sambat (curhat); bicaralah pada laut, angin, rumput, bebatuan, atau Tuhan. Jangan sama perempuan. Ingat kutukan Yudhistira....!

Dalam Politik Tuhan sudah Mati

Dalam politik Tuhan sudah mati. Tidak ada kebenaran. Yang ada hanyalah kenisbian. Nihilisme. Apa yang dianggap benar hanyalah ilusi. Masalah interpretasi. Orang-orang yang membawa moralitas dalam politik tidak lebih dari seorang munafik. Bajingan berkedok habib.

Sekarang kita memasuki dunia politik hakiki. Perebutan kuasa yang tidak alang kepalang. Tidak ada lagi yang ditakutkan. Kematian Tuhan memberikan kebebasan yang tiada batasnya. Asal ada legitimasi; memfitnah, membully, atau melacurkan diri untuk difornikasi, tak lagi peduli. Halalan thayyiba atau haraman thayyiba sudah tidak ada bedanya lagi.

Para politisi bergadang, menyusun strategi, berharap mendapatkan eureka dari diri sendiri; hanya untuk bagaimana meraih menang atas lawan. Mengangkanginya. Bahkan kalau perlu memberakinya. Man jadda wajada. Tidak ada yang berperan dalam memberikan kemenangan kecuali diri sendiri. Tuhan sudah mati.

Tuhan mungkin masih hidup di gang-gang sempit; di kantong-kantong kosong pemulung; di dompet tipis penjaja koran; di nasi kucing angkringan; di kotak semir; di kost mahasiswa kere, dan di celengan masjid. Di dalam politik Dia mati. Di instrumen-instrumennya juga; di koran-koran, tele(visi), panggung-panggung seminar, dan di toa-toa demonstran bayaran; Tuhan tidak ada jejak-Nya lagi.

Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat

Sudah benar bapak bangsa kita menempatkan hikmat sebagai pemimpin bagi kerakyatan Indonesia (sila ke-4). Tidak pada manusianya. Sayang banyak orang tidak memahaminya. Dalam permusyawaratan perwakilan tidak ada lagi kebijaksanaan. Yang ada adalah perebutan kekuasaan. Apa yang dianggap baik itulah hikmat bagi mereka. Dengan kekuatan kuasa kemudian dijejalkan.

Ingat, hikmat itu diraih dengan cinta. Cinta kepada rakyat Indonesia. Nafsu berkuasa tidak akan ada habisnya. Malah akan terus mendatangkan perkelahian. Masing-masing pihak akan mengklaim diri sebagai Pandawa. Menuntut hak pada Kurawa. Hingga menggiring bangsa ini pada perang saudara di Kurusetra.

Tidak adakah entri Keluarga Cemara dalam kamus perpolitikan Indonesia? Mengesampingkan perbedaan. Menempatkan cinta demi kehidupan bersama. Kebenaran tidak lagi ditakar dari sumbernya. Tapi sejauh mana ia betul-betul memberi kehidupan bagi seluruh rakyat Indonesia. Al-hikmah dhaallatul mu'min. Di mana pun ia ditemukan, ambil saja.

Sengketa UU Pilkada adalah masalah kecil. Yang lebih berbahaya adalah mentalitas manusianya. Selama masih memendam kebencian, akan ada terus pertikaian. Rasionalitas akan menjadi senjata mengerikan. Menjadi selang-selang hasrat untuk mengalahkan atau malah membinasakan. Dan yang amat disayangkan, masyarakat Indonesia ikut hanyut dalam kebodohan. Mengapa tidak duduk saja; merokok, ngopi dan makan gorengan. Menganggap semua itu hanya sebagai dagelan.

Rabu, 04 Juni 2014

Islam, Prabowo, dan Jokowi

Aku tidak melihat Islam pada diri Prabowo, begitu juga Jokowi. Entah apakah aku yang buta atau? Tapi inilah pengetahuanku. Pada mereka, yang kulihat adalah kelihaian berpolitik. Bukan agama. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa orang-orang membawa-bawa agama dan menggunakannya sebagai senjata untuk melemahkan lawan dan meraih dukungan. Agama dimanipulasi untuk tujuan politis.

Islam masuk dalam ranah Prabowo dan Jokowi adalah akibat omongan pinggiran dan hembusan kesengajaan. Orang-orang mengatakannya efek wacana. Dan yang menyedihkan adalah, mereka memakan mentah-mentah wacana itu tanpa didasari pengetahuan yang mumpuni mengenai Prabowo dan Jokowi. Bahkan menimpa para ulama. Mereka saling ribut. Keras-kerasan. Tanpa sadar mereka menabrak moralitas yang ditetapkan Tuhan. Tanpa malu, atas nama agama, mereka menamakannya sebagai keislaman.

Betapa lemahnya orang di hadapan wacana. Aku tidak yakin Prabowo dapat bicara Islam dengan baik. Juga tidak yakin Jokowi dapat mendiskusikan surah al-Fatihan dengan apik. Jangan-jangan keduanya tidak paham apa itu surah al-Fatihah, tidak pas melafazkannya, dan bagaimana samudera kandungannya. Tapi sekali lagi aku merasa aneh; mengapa mereka mengagamakan kontestasi politis antara Prabowo dan Jokowi? Kuyakin biangkeladinya adalah wacana.

Mereka itu politisi. Benar Islam adalah keyakinan mereka, tapi mereka bukan Islam. Islam tidak dapat dipersonalisasikan. Ia akan tereduksi. Mestinya orang-orang yang membawa-bawa agama dalam kontestasi Prabowo dan Jokowi sadar itu. Mereka akan mencederai Islam. Walau secara substansi Islam tidak akan sakit, tapi penilaian orang akan wajah Islam Indonesia bisa saja menyesakkan dada; dada kita umat Islam Indonesia.

Jokowi memang dalam kondisi linear dengan Ahok. Kalau Jokowi jadi presiden, Ahok ikut naik memimpin Jakarta. Ingat, ini peristiwa sejarah. Karena itu jangan berpikir ahistoris. Kalau memang tidak suka dengan Ahok, singkirkan saja dia. Lukai demokrasi. Injak hukum. Bakar nilai-nilai. Tegakkan kuasa rakyat. Selesai. Tidak perlu membawa segerobak dalil agama untuk ditumpahkan dalam ajang pilpres. Apa tidak takut terjebak dalam bid'ah? Ancaman neraka? Ah, tampaknya ini hanya sekedar lelucon bagimu.

Senin, 02 Juni 2014

Tidak Suka Khotbah Diawasi, Ya Benahi

Khotbah diawasi. Aku kira ini menarik. Agak menyentil. Atau malah menurutku menjewer. Kenapa protes? Apakah ini menakutkan? Apakah kita sedang berada di bumi fasisme, atas nama nasionalisme semua dicurigai?

Bukan bermaksud ikut berkontroversi; hanya berbagi. Sudah saatnya diberi perhatian. Orang selama ini cenderung masa bodoh. Tidak mau menoleh. Bahkan lebih suka tidur. Tapi dalam kabut ketidaktahuan, berisiknya tidak ketolongan.

Cobalah jangan tidur saat khotbah. Dengarkan. Simak baik-baik. Apa konten khotbah yang kau dapatkan selama sebulan? Betapa semrawutnya. Khatib sekehendak hati menyampaikan apa yang dia suka. Tidak ada penjadwalan. Materi yang kocar-kacir. Dalam 3 Jum'at berturut-turut, sudah biasa ditemukan bahasan yang sama; meski khatibnya berbeda.

Bahkan tidak jarang khatib seperti seorang hipnoterapis. Menghipnosis jama'ah, sehingga banyak yang tidak sadar. Tidur. Ini gejala umum khatib di Indonesia. Tapi masih mending. Yang perlu diwaspadai adalah khatib "liar." Setelah naik mimbar, melakukan provokasi; amunisi ayat keluar bertubi-tubi. Serangan begitu mengena. Jama'ah tegang. Pulang membawa dendam dan kebencian. Gerah.

Muhammadiyah yang kesannya mengecam pengawasan terhadap khotbah sebenarnya adalah korban. Tapi malu-malu. Berapa banyak jama'ah-jama'ahnya di penjuru Indonesia saling bersitegang. Pecah. Bahkan NU, langgar-langgar dan masjid-masjidnya banyak yang hilang. Hanya karena lagi demam politik, masing-masing mengabaikan kenyataan.

MUI yang digadang-gadangkan jadi payung Islam yang damai tampaknya tidak dapat berbuat banyak. Malah kerasukan. Beberapa anggotanya ternyata suka perang. Pengetahuan menghakimi pengetahuan. Tanpa sadar di garis bawah orang pukul-pukulan. MUI cuma ngambil sabun, terus cuci tangan. Agama yang tidak dibarengi dengan pengetahuan akan manusia seperti musafir yang berak di jalan. Orang kena bau busuknya, dia nikmat melepas bebannya.

Silahkan tidak suka khotbah diawasi. Tapi tolong dong dibenahi.