Kamis, 29 Januari 2009

Barabai Ka’bahnya Kalimantan Selatan

Jika Anda orang Kalimantan Selatan, tapi tidak pernah mengunjungi Kota Barabai, maka Anda tidak layak disebut sebagai orang Banjar. Ini mungkin bagi anda sebagai sikap fanatik etnik, dan Anda mungkin akan menuduh saya sebagai seorang ragab papanik, tapi bagi saya ini adalah hal yang semestinya. Karena hakikat Kalimantan-Selatan ada pada Barabai. Anda boleh menolak, tapi tidakkah Anda mau merenung sejenak?


Dipandang dari angle geografis, Barabai adalah jantungnya Kal-Sel. Ia adalah kota transit yang menghubungkan jalur ke berbagai tempat. Struktur komposisi tanah yang dimilikinya jauh berbeda dengan Kota Banjarmasin yang sekarang menjadi Ibu Kota Kal-Sel. Apatah lagi bangun pikir yang dimiliki masyarakatnya, karakter asli Kal-Sel ada pada kota ini.

Posisi landai yang jika disorot dari jejer pegunungan Maratus hingga dataran rendah Nagara menempatkan Barabai sebagai kota teraman dari bencana banjir. Ini fakta seharusnya. Hanya jika operator tata kota tidak terlalu peka, bisa saja sesekali banjir menghampir. Tandasnya ini adalah human error. Air semestinya laju mengalir, melewati dan tidak berhenti. Karena karakter inilah Barabai dipandang sebagai garis hulu. Orang-orangnya sering disebut dengan orang Hulu Sungai, orang Batang Banyu.

Dari sudut pandang tradisi, Barabai sangat mendominasi warna Kal-Sel. Nyaris di setiap penjuru kabupaten dan kota, orang-orang Barabai terdapat di sana. Mereka beranak pinak, membaur, dan kemudian mendominasi. Banjarmasin yang sekarang menjadi Ibu Kota provinsi ini sudah kehilangan karakter tradisinya. Budaya bahasa yang dibangun sudah mulai pudar dan runtuh. Laa siyyama kulinernya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa suatu masakan berasal dari Banjarmasin, pada hakikatnya itu adalah asli Barabai.

Dalam dunia akademik dan politik, orang-orang Barabai selalu menjadi mainstream. Baik itu dinilai dari segi kualitas maupun kuantitas. Jika dianalogikan, Barabai itu ibarat Ka’bahnya Kalimantan-Selatan. Ia menjadi pusat yang kencang mengeluarkan gerak sertrifugal budayanya. Orang-orang berarak menuju, tapi nilai-nilainya cepat merambah ke luar. Karena itu wajar jika saya menyebutkan bahwa Kalimantan Selatan adalah bagian dari Barabai. Dan Barabai sendiri adalah bagian dari desa saya, Kampung Arab.

Narsis, egoistis, dan sangat optimis. Begitulah saya. Pada saat-saat tertentu kita memang harus begitu, subjektif banget. Fakta kita seludupkan dalam suatu reduksi dengan cara memainkan citra. Dan jangankan Kalimantan-Selatan, Indonesia pun bisa saya sulap menjadi bagian dari Barabai. Hanya bagaimana kita meraciknya. Bukankah para politisi sering berbuat demikian? Bukankah partai politik selalu menjanjikan nomor satu dagangannya? Mengapa kita tidak bisa?

Andapun sebenarnya bisa berbuat demikian. Barabai bisa saja Anda buang dari konstelasi ranah politik, ekonomi, budaya, ataupun pendidikan. Ini tergantung bagaimana Anda mensiasatinya. Tapi bagi saya, bagaimanapun kerasnya usaha Anda memudarkan gaung Barabai atau malah mendeletenya dari segala domain, Anda tidak akan bisa melakukannya.

Harus diakui, meski dalam sejarah Barabai tergolong pendatang baru dalam garis wilayah Kalimantan Selatan, tapi eksistensinya akan selalu kuat. Orang-orang akan selalu ingat. Karena di sinilah patok peradaban Kal-Sel nantinya menguat. Orang-orang tidak akan bisa terus bergerumul memadati wilayah pesisir. Mereka mesti mencair, dan ujung-ujungnya akan memenuhi Barabai. Barabai nantinya akan menjadi melting pot, tempat meleburnya beragam etnik dan budaya. Namun karakter kuat religi dan budayanya akan tetap menjadi pemandu.

Sebagaimana Jawa bagi Indonesia. Jika dipikir-pikir, maka semestinya pusat peradaban Indonesia terletak di Sumatera, bukannya Jawa. Sumatera adalah wadah penyambut budaya Internasional. Ia adalah pintu gerbang Indonesia. Tapi fakta berbicara beda, hingga saat ini laju gerak budaya, ekonomi, dan bahkan dalam pembentukan imej sejarah, Jawa sangat superior. Hal inipun yakin saya akan terjadi pada Barabai. Banjarmasin akan memarjinal dan Barabai akan beranjak menyentral.

Orang-orang di sini mengair, merembes seperti air. Namun kadang yang jadi kendala adalah pemerintahnya. Realita rancak demikian tidak dipandang sebagai aset. Semangat mobilisasi masyarakatnya tidak dibarengi dengan semangat kerja sama yang baik dari pemerintah. Klise yang sulit terbantah, pemerintah yang memiliki wewenang besar, cenderung berbuat korup. Power tends to corrupt and absolute power tends corrupts absolutely, demikian kata Lord Acton.

Korup tidak mesti dimaknai dengan kasar sebagai perbuatan curang dalam suatu pengelolaan, tapi ia bisa bermakna sebagai pengabaian hak-hak masyarakat dengan kecenderungan mengambil porsi kepentingan diri dan kelompok dalam skala besar. Bahkan kehendak yang terbetik di dalam hati saja sudah bisa dimaknai korup. Komitmen tidak baik akan melahirkan laku yang tidak baik.

Jadi bagaimana dengan Anda. Adakah renungan Anda sampai pada suatu kesimpulan untuk mengangguki pernyataan saya? Jika tidak, maka tidak mengapa. Karena sejak dari pertama saya juga masih belum bisa meyakininya. Kalau saya yang menulis saja belum bisa percaya, apalagi Anda. Tapi biarkan saja. Tetaplah kita menjadi syahid sejarah dalam penggalan waktu yang kita sendiri belum tahu dengan pasti kapan berakhirnya. Allahu a’lam

4 komentar:

  1. apa tuh maksud dari kalimat pertama di atas???

    saya sama sekali tidak pernah ke barabai, berarti saya tidak layak disebut sebagai orang banjar. so, klo begitu saya orang mana dong???

    orang hutan???
    haha...

    BalasHapus
  2. hahahaha.....jkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    BalasHapus
  3. Semoga Barabai menjadi demikian! bahkan setidaknya Barabai menjadi bekantannya Asia

    BalasHapus

Terima kasih, Anda telah meluangkan waktu mengomentari tulisan saya.