Dalam suatu diskusi terbatas, K.H. Muhammad Maimun
mengatakan, bahwa umat Islam sekarang ini telah mengalami dislokasi,
disorientasi, dan disintegrasi. Membawa ajaran Islam tapi lupa perihal
kekinian dan kedisinian. Islamnya mengambang. Kehilangan pijakan
(dislokasi) sehingga tidak tau arah tujuan (disorientasi). Saling klaim
kebenaran, akhirnya sesama Islam jatuh menjatuhkan (disintegrasi).
Umat Islam itu semestinya mengair dan mengudara. Dapat merembes dan
memenuhi tempat di mana-mana. Eklektik, merasuki dan mensucikan.
Proaktif, penuh tanggung jawab. Seperti konsep masjid, mushalla, surau,
atau langgar, di mana pun ia didirikan, bahkan di tempat pelacuran
sekalipun; ia akan mensucikan. Tinggal bagaimana mengerahkan pikiran,
menyingsingkan lengan, menghikmahi, agar wilayah 'suci' bertambah luas.
Sekarang tidak. Walaupun mengatakan ini akan dituduh dramatic instance
(overgeneralisasi), tapi begitulah kenyataan. Indonesia adalah ladang
Islam mengambang. Banyak, tapi tidak memahami betul apa yang dipegang.
Betul di sana ada al-Quran, hadis, dan tauhid, tapi hanya sebutan.
Tuhan, prinsip, ditafsirkan macam-macam. Sesuai keperluan, dan tidak
jarang sesuai pesanan. Akhirnya sama-sama berpegang pada Tuhan dan
prinsip, tapi tidak pernah harmoni. Pukul-pukulan. Ruang gerak umat
makin sempit. Sesama Muslim saling mengkapling.
K.H. Muhammad
Maimun meneteskan air mata. Merasa sangat berdosa. Tidak memiliki
kekuatan memberi pemahaman. Orang-orang Islam sudah semakin pintar. Dia
hanya seorang kiai kampung di pojok Indramayu. Mengajar santri,
berdiskusi, membimbing masyarakat, dan sesekali hadir di ruang kelas
mahasiswa. Sekarang ketenaran menjadi kebenaran. Sambil mengisap rokok
klobotnya dalam-dalam, mengeluarkan pelan-pelan, Kiai haji terdiam
merem.
Jumat, 23 Mei 2014
Salat Subuh Tiga Rakaat
Pagi
Jum'at, keponakan saya (Alfin Khairin) yang berusia lima tahun bergegas
ke musala. Ini pertama kali dia shalat subuh berjama'ah. Sesampai di
musala, imam sudah takbir ihram. Alfin masuk saf kemudian ikut
bertakbir. Khusyuk mendengarkan bacaan iman.
Karena masih kecil, Alfin tidak begitu mengerti tradisi di kampung. Setiap subuh Jum'at, imam biasanya membaca surah al-Sajadah. Pada saat membaca bagian ayat 'kharruu sujjada' selesai, imam lantas sujud. Tanpa pikir-pikir Alfin pun ikut sujud. Dia kira ini adalah raka'at pertama. Namun setelah imam berdiri meneruskan bacaan hingga ayat 'fa-a'ridh 'anhum wa-ntazhir', imam rukuk, sujud, duduk, selesai itu berdiri lagi; Alfin mulai gelisah. 'Kata mama, subuh dua raka'at. Tapi ini sudah dua, belum juga selesai. Mama pembohong...!'
Selesai salat, Alfin langsung pulang. Di rumah Alfin menangis memarahi mamanya. 'Mama bohong. Katanya subuh dua raka'at, tapi kenapa tiga?'
Karena masih kecil, Alfin tidak begitu mengerti tradisi di kampung. Setiap subuh Jum'at, imam biasanya membaca surah al-Sajadah. Pada saat membaca bagian ayat 'kharruu sujjada' selesai, imam lantas sujud. Tanpa pikir-pikir Alfin pun ikut sujud. Dia kira ini adalah raka'at pertama. Namun setelah imam berdiri meneruskan bacaan hingga ayat 'fa-a'ridh 'anhum wa-ntazhir', imam rukuk, sujud, duduk, selesai itu berdiri lagi; Alfin mulai gelisah. 'Kata mama, subuh dua raka'at. Tapi ini sudah dua, belum juga selesai. Mama pembohong...!'
Selesai salat, Alfin langsung pulang. Di rumah Alfin menangis memarahi mamanya. 'Mama bohong. Katanya subuh dua raka'at, tapi kenapa tiga?'
Mengindonesiakan Bahasa Daerah
Kemarin
saya dapat sms dari teman yang isinya memuat kata 'kepo.' Karena tidak
sanggup memahami makna kata itu secara gramatika, saya kembali bertanya,
apa arti kata kepo? Teman saya sambil tertawa malah membalas, katanya
saya tidak gaul. Penasaran, saya cari arti itu di kamus slang (http://kamusslang.com/arti/ kepo), ternyata akronim dari 'knowing every particular object." Tegasnya orang yang serba tahu.
Ketika membuka kamus slang, dan tahu kalau kamus itu memuat 6839 kata, saya sempat berpikir, begitu kreatifnya anak bangsa ini dalam membuat istilah baru. Tapi sayang, asumsi saya, kata-kata slang itu tidak bersumber dari tradisi lokal. Padahal menurut Pusat Bahasa Depdiknas, kita memiliki sekitar 746 bahasa daerah. Sekiranya masing-masing bahasa daerah itu dipopulerkan, dan masuk dalam KBBI, Bahasa Indonesia akan sangat kaya.
Almarhum Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid pernah mengatakan kalau terjemahan al-Qur'an dari Departemen Agama (sekarang Kemenag) adalah terjemahan yang paling jelek. Salah satu alasannya adalah karena bahasa Indonesia itu miskin. Sementara bahasa al-Qur'an yang diterjemahkan sangat kaya. Yang cukup mampu menampung bahasa al-Qur'an adalah bahasa Inggris. Makanya terjemahan al-Qur'an versi Ali Audah dianggap Cak Nur lebih baik dari versi Depag. Karena Ali Audah, disamping sastrawan, tahu bahasa Arab dan agama, di juga menterjemahkan dari versi Inggris, The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, karya Yusuf Ali.
Bangsa Indonesia sebenarnya sudah sangat luar biasa. Karena di antara sekian banyak bangsa, bangsa Indonesia adalah yang termasuk paling sukses mengembangkan bahasa nasional. Belum banyak yang mampu menandingi. India contohnya. Mereka gagal memaksakan bahasa Hindi, yaitu bahasa India Utara, sebagai bahasa nasional. Orang-orang Tamil, Calcutta, dll. menolaknya. Begitu juga di Manila dengan bahasa Tagalognya. Sama gagalnya dengan India. Orang-orang Manila lebih suka berbahasa Inggris. Persis sama dengan bangsa Malaysia yang lebih suka berbahasa Inggris daripada bahasa Melayu.
Karena itu, sudah saatnya kita mengindonesiakan bahasa daerah. Tentu saja yang paling berperan adalah orang-orang yang berada di pusat informasi. Saya perhatikan, bahasa slang itu lebih banyak dikembangkan oleh 'banci-banci' metropolis. Maka ada baiknya Lembaga Pusat Bahasa Depdiknas memperhatikan orang-orang ini. Mengajak mereka mempopulerkan bahasa daerah. Dengan usaha deliberasi, insyaAllah bahasa Indonesia akan semakin kaya. Tidak hanya berjumlah 90.000 lema, tapi bahkan bisa mencapai jutaan lema.
Ketika membuka kamus slang, dan tahu kalau kamus itu memuat 6839 kata, saya sempat berpikir, begitu kreatifnya anak bangsa ini dalam membuat istilah baru. Tapi sayang, asumsi saya, kata-kata slang itu tidak bersumber dari tradisi lokal. Padahal menurut Pusat Bahasa Depdiknas, kita memiliki sekitar 746 bahasa daerah. Sekiranya masing-masing bahasa daerah itu dipopulerkan, dan masuk dalam KBBI, Bahasa Indonesia akan sangat kaya.
Almarhum Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid pernah mengatakan kalau terjemahan al-Qur'an dari Departemen Agama (sekarang Kemenag) adalah terjemahan yang paling jelek. Salah satu alasannya adalah karena bahasa Indonesia itu miskin. Sementara bahasa al-Qur'an yang diterjemahkan sangat kaya. Yang cukup mampu menampung bahasa al-Qur'an adalah bahasa Inggris. Makanya terjemahan al-Qur'an versi Ali Audah dianggap Cak Nur lebih baik dari versi Depag. Karena Ali Audah, disamping sastrawan, tahu bahasa Arab dan agama, di juga menterjemahkan dari versi Inggris, The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, karya Yusuf Ali.
Bangsa Indonesia sebenarnya sudah sangat luar biasa. Karena di antara sekian banyak bangsa, bangsa Indonesia adalah yang termasuk paling sukses mengembangkan bahasa nasional. Belum banyak yang mampu menandingi. India contohnya. Mereka gagal memaksakan bahasa Hindi, yaitu bahasa India Utara, sebagai bahasa nasional. Orang-orang Tamil, Calcutta, dll. menolaknya. Begitu juga di Manila dengan bahasa Tagalognya. Sama gagalnya dengan India. Orang-orang Manila lebih suka berbahasa Inggris. Persis sama dengan bangsa Malaysia yang lebih suka berbahasa Inggris daripada bahasa Melayu.
Karena itu, sudah saatnya kita mengindonesiakan bahasa daerah. Tentu saja yang paling berperan adalah orang-orang yang berada di pusat informasi. Saya perhatikan, bahasa slang itu lebih banyak dikembangkan oleh 'banci-banci' metropolis. Maka ada baiknya Lembaga Pusat Bahasa Depdiknas memperhatikan orang-orang ini. Mengajak mereka mempopulerkan bahasa daerah. Dengan usaha deliberasi, insyaAllah bahasa Indonesia akan semakin kaya. Tidak hanya berjumlah 90.000 lema, tapi bahkan bisa mencapai jutaan lema.
Ustad Hariri: Everyday is Valentine's Day
Ustadz
artinya adalah guru. Karena di Indonesia kata guru secara leksikal
bermakna pengajar di sekolah umum, maka kata ustadz akhirnya lebih
dikhususkan menjadi guru agama. Konsekuensinya, kata ustadz lekat dengan
simbol kesucian dan kebaikan. Yaitu seorang yang memiliki ilmu agama
sekaligus dianggap sebagai pribadi yang agamis.
Pergeseran makna dari leksikal ke kontekstual ini juga mirip dengan kata Valentine. Diambil dari nama seorang Santo (orang suci), Valentinus. Seorang yang dihukum pancung akibat lancang menikahkan pasangan yang jatuh cinta. Keberanian Santo ini kemudian diabadikan menjadi simbol kasih sayang. Maka dikenalah istilah Valentine's Day, hari kasih sayang. Memang banyak versi, tapi kita cukupkan mengambil versi ini.
Kata ustadz dan valentine sekarang ramai dibicarakan di dunia maya. Yang pertama karena video ustadz Hariri, da'i tiban, menindih (bukan menginjak) kepala orang dengan lutut. Sementara yang kedua, karena besok, 14 Pebruari 2014, akan diperingati hari kasih sayang (Valentine's Day), hari yang identik dengan bermesra-mesraan.
Orang ribut karena tidak seharusnya si Hariri, ustadz tiban, berlaku begitu meski dilandasi alasan bagaimanapun. Seorang ustadz harusnya mampu mengendalikan diri. Mengayomi. Seperti Nabi, disakiti tapi malah menyayangi. Dijahati tapi mendoakan kebaikan. Bukan malah mengasih lutut ke tengkuk orang. Masyarakat tidak mau tahu, harusnya seorang ustadz ya begitu itu. Bermoral.
Adapun hari valentine, bagi kalangan agamis, ini adalah budaya merusak. Tradisi Barat yang tidak patut untuk ditiru. Meniru berarti bagian dari mereka. Hukumnya adalah haram. Valentine's Day sama dengan seks bebas. Kasih sayang yang salah sasaran. Memberi makan libido yang tidak pernah kenyang. Melahirkan generasi berpikir pendek dan cetek.
Kasihan ustadz Hariri, dia terperangkap oleh budaya. Padahal Islam mengajarkan hal yang sangat realistis, bahwa manusia itu tetaplah manusia. Rebutan kekuasaan. Marah kemudian memukul orang. Benci kemudian mencaci maki orang. Tidak ada manusia suci. Tapi budaya mengurungya untuk selalu berbuat SEHARUSNYA (normatif) dan mendelete sisi KEMANUSIAANNYA (historis).
Kasihan juga Valentine's Day, orang Indonesia hanya melihat dari sisi sejarahnya. Bahwa budaya itu merusak moral. Tapi tidak kembali pada makna leksikalnya, berkasih sayang. Sebagaimana sifat Tuhan al-Rahman dan al-Rahim. Everyday is Valentine's Day dalam Islam.
Memang ada saatnya kita mengabaikan asal-usul, dan ada saatnya untuk menggalinya. Orang mungkin banyak yang tidak tahu kalau kata Minggu itu diambil dari bahasa Portugis, Domingo hari Tuhan. Dari agama pagan, penyembah berhala. Menara di depan masjid dari kata manaarah, agama majusi, penyembah api. Kubah masjid dari Byzantium, tradisi Kristen, dll. Namun karena baik, diambil fungsinya, dibuang sama sekali kaitan kemusyrikan asal-usulnya.
Kemudian berkenaan dengan kata ustadz, dalam melihat kasus ustadz Hariri, ada baiknya menggali asal-usulnya. Bahwa ustadz itu hanya sekedar manusia biasa. Tidak ada keharusan untuk menjadi baik sepanjang masa. Itu hanya sekedar HARAPAN. Sama sebagaimana yang diharapkan pada semua manusia. Bukankah orang Islam Indonesia itu baik dan suka memaafkan. Jangankan seorang ustadz, kuroptor saja dibiarkan. Kata orang, nama INDONESIA itu berasal dari kata AMNESIA, lupa ingatan. Maka harusnya menjadi watak orang Indonesia untuk melupakan segala hal yang tidak mengenakkan.
Pergeseran makna dari leksikal ke kontekstual ini juga mirip dengan kata Valentine. Diambil dari nama seorang Santo (orang suci), Valentinus. Seorang yang dihukum pancung akibat lancang menikahkan pasangan yang jatuh cinta. Keberanian Santo ini kemudian diabadikan menjadi simbol kasih sayang. Maka dikenalah istilah Valentine's Day, hari kasih sayang. Memang banyak versi, tapi kita cukupkan mengambil versi ini.
Kata ustadz dan valentine sekarang ramai dibicarakan di dunia maya. Yang pertama karena video ustadz Hariri, da'i tiban, menindih (bukan menginjak) kepala orang dengan lutut. Sementara yang kedua, karena besok, 14 Pebruari 2014, akan diperingati hari kasih sayang (Valentine's Day), hari yang identik dengan bermesra-mesraan.
Orang ribut karena tidak seharusnya si Hariri, ustadz tiban, berlaku begitu meski dilandasi alasan bagaimanapun. Seorang ustadz harusnya mampu mengendalikan diri. Mengayomi. Seperti Nabi, disakiti tapi malah menyayangi. Dijahati tapi mendoakan kebaikan. Bukan malah mengasih lutut ke tengkuk orang. Masyarakat tidak mau tahu, harusnya seorang ustadz ya begitu itu. Bermoral.
Adapun hari valentine, bagi kalangan agamis, ini adalah budaya merusak. Tradisi Barat yang tidak patut untuk ditiru. Meniru berarti bagian dari mereka. Hukumnya adalah haram. Valentine's Day sama dengan seks bebas. Kasih sayang yang salah sasaran. Memberi makan libido yang tidak pernah kenyang. Melahirkan generasi berpikir pendek dan cetek.
Kasihan ustadz Hariri, dia terperangkap oleh budaya. Padahal Islam mengajarkan hal yang sangat realistis, bahwa manusia itu tetaplah manusia. Rebutan kekuasaan. Marah kemudian memukul orang. Benci kemudian mencaci maki orang. Tidak ada manusia suci. Tapi budaya mengurungya untuk selalu berbuat SEHARUSNYA (normatif) dan mendelete sisi KEMANUSIAANNYA (historis).
Kasihan juga Valentine's Day, orang Indonesia hanya melihat dari sisi sejarahnya. Bahwa budaya itu merusak moral. Tapi tidak kembali pada makna leksikalnya, berkasih sayang. Sebagaimana sifat Tuhan al-Rahman dan al-Rahim. Everyday is Valentine's Day dalam Islam.
Memang ada saatnya kita mengabaikan asal-usul, dan ada saatnya untuk menggalinya. Orang mungkin banyak yang tidak tahu kalau kata Minggu itu diambil dari bahasa Portugis, Domingo hari Tuhan. Dari agama pagan, penyembah berhala. Menara di depan masjid dari kata manaarah, agama majusi, penyembah api. Kubah masjid dari Byzantium, tradisi Kristen, dll. Namun karena baik, diambil fungsinya, dibuang sama sekali kaitan kemusyrikan asal-usulnya.
Kemudian berkenaan dengan kata ustadz, dalam melihat kasus ustadz Hariri, ada baiknya menggali asal-usulnya. Bahwa ustadz itu hanya sekedar manusia biasa. Tidak ada keharusan untuk menjadi baik sepanjang masa. Itu hanya sekedar HARAPAN. Sama sebagaimana yang diharapkan pada semua manusia. Bukankah orang Islam Indonesia itu baik dan suka memaafkan. Jangankan seorang ustadz, kuroptor saja dibiarkan. Kata orang, nama INDONESIA itu berasal dari kata AMNESIA, lupa ingatan. Maka harusnya menjadi watak orang Indonesia untuk melupakan segala hal yang tidak mengenakkan.
Foucault Sepanjang Jalan Adisucipto-Malioboro
Sudah
berapa bulan ini, setiap hari minggu, sekitar jam 5 pagi saya jalan
kaki dari Bandara Adisucipto menuju Malioboro. Lumayan jauh, sekitar 9
Km. Dua jam perjalanan. Rute lurus, tekan Tugu, ke Selatan. Sampai
Malioboro, biasanya saya ngangkring di seberang Jl. Pajeksan. Sambil
mengendorkan otot, ngeteh nasgitel, liat turis lokal jeprat-jeprit
tampang.
Di jalan kadang saya berjumpa dengan beberapa orang tidak waras. Macam-macam jenisnya. Tapi kosa kata yang saya punya adalah GILA. Sambil meneruskan jalan kaki, otak saya berpikir kembali ke dunia Foucault. Hati saya bergumam, benar juga apa kata Foucault. Andai kita tidak punya kategori GILA, kita tidak akan dapat berpikir kalau semua orang itu sama. Dan kita tidak akan berpikir kalau mereka adalah kebalikan dari kita.
KEGILAAN berkaitan erat dengan hal MENYINGKIRKAN orang dari masyarakat. Ada semacam relasi-relasi kuasa (power relations) yang berada di balik WACANA. Kadang bersumber dari kehendak kelompok, individu, atau bahkan liar tanpa ada subjek dan terkurung dalam semata-mata bahasa. Wacana ada di mana-mana, mengalir di dalam berbagai bidang kehidupan. Itulah katanya yang menentukan antara gila dan normal.
Sambil terus berjalan, ingat juga saya sama Edward Said, penulis buku yang sangat terkenal, Orientalism. Meminjam analisis wacana yang digagas Foucault, Said menelanjangi Barat yang berkehendak mendominasi, menguasai, dan mengkonstruksi Timur. Barat melukis, mencipta, dan menghadirkan Timur sebagaimana yang mereka kehendaki. Melalui buku-buku, koran, radio, televisi, dll., Timur menjelma menjadi apa yang digambarkan Barat. Bahkan tanpa sadar, dalam memandang diri sendiri pun, orang Timur seperti apa yang dikatakan Barat.
Ingat lagi saya ke saat-saat berbincang dengan Foucaultisme, Syahbudi Natoras, dalam diskusi antropologi agama. Dia mempertemukan saya dengan Talal Asad. Sama seperti Said, Asad juga meminjam jurus sakti analisis wacana Foucault. Sasarannnya adalah Clifford Geertz. Asad mengkritisi definisi agama yang dibuat Geertz. Menolak efek simbol dan ritus atas psikologis. Menghidari pandangan substantif dan nominalis. Menyodorkan wacana sebagai sebab fenomenologi agama.
Banyak lagi yang saya ingat. Ada Yudi Latif yang menggunakan ide Foucault dalam buku Intelegensi Muslim dan Kuasa. Abid al-Jabiri dalam Mutsaqqafuun fi al-Hadharaat. Ada Anis Mashduqi yang mencoba mengkritisi Muwafaqaat al-Syatibi, dan lain-lain. Ah, saya kembali bergumam, Mbah Foucault memang luar biasa. Tak terasa sudah dua jam. Terdengar sirene tanda kereta api stasiun Tugu mau lewat.
Di jalan kadang saya berjumpa dengan beberapa orang tidak waras. Macam-macam jenisnya. Tapi kosa kata yang saya punya adalah GILA. Sambil meneruskan jalan kaki, otak saya berpikir kembali ke dunia Foucault. Hati saya bergumam, benar juga apa kata Foucault. Andai kita tidak punya kategori GILA, kita tidak akan dapat berpikir kalau semua orang itu sama. Dan kita tidak akan berpikir kalau mereka adalah kebalikan dari kita.
KEGILAAN berkaitan erat dengan hal MENYINGKIRKAN orang dari masyarakat. Ada semacam relasi-relasi kuasa (power relations) yang berada di balik WACANA. Kadang bersumber dari kehendak kelompok, individu, atau bahkan liar tanpa ada subjek dan terkurung dalam semata-mata bahasa. Wacana ada di mana-mana, mengalir di dalam berbagai bidang kehidupan. Itulah katanya yang menentukan antara gila dan normal.
Sambil terus berjalan, ingat juga saya sama Edward Said, penulis buku yang sangat terkenal, Orientalism. Meminjam analisis wacana yang digagas Foucault, Said menelanjangi Barat yang berkehendak mendominasi, menguasai, dan mengkonstruksi Timur. Barat melukis, mencipta, dan menghadirkan Timur sebagaimana yang mereka kehendaki. Melalui buku-buku, koran, radio, televisi, dll., Timur menjelma menjadi apa yang digambarkan Barat. Bahkan tanpa sadar, dalam memandang diri sendiri pun, orang Timur seperti apa yang dikatakan Barat.
Ingat lagi saya ke saat-saat berbincang dengan Foucaultisme, Syahbudi Natoras, dalam diskusi antropologi agama. Dia mempertemukan saya dengan Talal Asad. Sama seperti Said, Asad juga meminjam jurus sakti analisis wacana Foucault. Sasarannnya adalah Clifford Geertz. Asad mengkritisi definisi agama yang dibuat Geertz. Menolak efek simbol dan ritus atas psikologis. Menghidari pandangan substantif dan nominalis. Menyodorkan wacana sebagai sebab fenomenologi agama.
Banyak lagi yang saya ingat. Ada Yudi Latif yang menggunakan ide Foucault dalam buku Intelegensi Muslim dan Kuasa. Abid al-Jabiri dalam Mutsaqqafuun fi al-Hadharaat. Ada Anis Mashduqi yang mencoba mengkritisi Muwafaqaat al-Syatibi, dan lain-lain. Ah, saya kembali bergumam, Mbah Foucault memang luar biasa. Tak terasa sudah dua jam. Terdengar sirene tanda kereta api stasiun Tugu mau lewat.
Evans Pritchard: Rasionalitas Asmirandah
Banyak
orang menyayangkan mengapa Asmirandah pindah agama. Tidak sedikit yang
mengatakan dia bodoh. Buta karena dimabuk cinta. Menukar akidah dengan
harga kegantengan pria (Jonas Rivanno). Seperti cerita 'Layla dan
Majnun,' Asmirandah sudah kehilangan dirinya. Hatinya dipenuhi oleh
Jonas Rivanno, tidak ada lagi ruang untuk lainnya. 'Rivanno dan
Majnunah.' Kisah cinta yang selalu dimainkan oleh anak manusia dari masa ke masa.
Berbagai sudah komentar tentang kasus Asmirandah. Rata-rata mengusung autobiografi penuturnya. Bagaimana kiranya kalau yang menyoroti adalah seorang Antropolog seperti Edward Evans Pritchard, mungkin akan beda hasilnya. Sebagaimana yang telah mafhum dalam antropologi, Seorang Pritchard tidak akan sembarang berkomentar kalau berita tidak datang dari 'mulut' pelaku. Omongan yang cenderung menghakimi akan dipandangnya sebagai sampah.
Seperti dalam kasus tenung (witchraft) masyarakat Azande (Afrika Timur) yang cenderung dipandang teoritikus reduksionis sebagai ketololan, Pritchard mengomentari sebaliknya. Menurutnya di situlah letak kecerdasan suku Azande. Mereka memiliki rasionalitas sendiri atas apa yang mereka lakukan. Adalah mereka yang berkomentar miring yang buta, tidak bisa menangkap sesuatu dengan EMPATI. Hanya mengandalkan komparasi keberadaban dengan keterbelakangan. Melihat agama secara evolutif. Mengandalkan refleksi subjektif diri yang sangat spekulatif. Suatu teori yang basi.
Meminjam analisis Pritchard, kita bisa mengatakan kalau Asmirandah memiliki rasionalitas sendiri atas keimanannya. Dia yang tahu. Kalau dia utarakan, mungkin kita akan mengangguki suara batinnya. Tuh dalam sudut pandang yang lebih luas, dia masih memiliki rasa agama. Rasa berketuhanan. Walaupun dia mengambil jalan kekristenan (kalau memang benar pindah agama). Bandingkan dengan mereka yang beragama, tapi perilakunya sama sekali tidak memantulkan aura keberagamaan.
Mungkin begitu yang akan dikatakan Pritchard kepada kita. Tapi walaupun kita mampu menangkap pesan Pritchard, rasanya tetap tidak mengenakkan. Di negara ini, orang yang pindah agama, dari Islam ke Kristen, hampir dapat dipastikan bukan karena SUBSTANSI AJARAN, lebih karena permasalahan keduniawian. Sebaliknya, orang pindah ke Islam, dari agama apapun dia berasal, cenderung karena ajaran. Wallahu A'lam.
Berbagai sudah komentar tentang kasus Asmirandah. Rata-rata mengusung autobiografi penuturnya. Bagaimana kiranya kalau yang menyoroti adalah seorang Antropolog seperti Edward Evans Pritchard, mungkin akan beda hasilnya. Sebagaimana yang telah mafhum dalam antropologi, Seorang Pritchard tidak akan sembarang berkomentar kalau berita tidak datang dari 'mulut' pelaku. Omongan yang cenderung menghakimi akan dipandangnya sebagai sampah.
Seperti dalam kasus tenung (witchraft) masyarakat Azande (Afrika Timur) yang cenderung dipandang teoritikus reduksionis sebagai ketololan, Pritchard mengomentari sebaliknya. Menurutnya di situlah letak kecerdasan suku Azande. Mereka memiliki rasionalitas sendiri atas apa yang mereka lakukan. Adalah mereka yang berkomentar miring yang buta, tidak bisa menangkap sesuatu dengan EMPATI. Hanya mengandalkan komparasi keberadaban dengan keterbelakangan. Melihat agama secara evolutif. Mengandalkan refleksi subjektif diri yang sangat spekulatif. Suatu teori yang basi.
Meminjam analisis Pritchard, kita bisa mengatakan kalau Asmirandah memiliki rasionalitas sendiri atas keimanannya. Dia yang tahu. Kalau dia utarakan, mungkin kita akan mengangguki suara batinnya. Tuh dalam sudut pandang yang lebih luas, dia masih memiliki rasa agama. Rasa berketuhanan. Walaupun dia mengambil jalan kekristenan (kalau memang benar pindah agama). Bandingkan dengan mereka yang beragama, tapi perilakunya sama sekali tidak memantulkan aura keberagamaan.
Mungkin begitu yang akan dikatakan Pritchard kepada kita. Tapi walaupun kita mampu menangkap pesan Pritchard, rasanya tetap tidak mengenakkan. Di negara ini, orang yang pindah agama, dari Islam ke Kristen, hampir dapat dipastikan bukan karena SUBSTANSI AJARAN, lebih karena permasalahan keduniawian. Sebaliknya, orang pindah ke Islam, dari agama apapun dia berasal, cenderung karena ajaran. Wallahu A'lam.
Hukum-Oriented
Ada
yang bilang kalau cara beragama orang Islam sekarang mirip Yahudi.
Hukum-Oriented. Kamu tidak boleh, kamu tidak boleh. Persis seperti
Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandment) kepada Nabi Musa. Agama
tereduksi menjadi semata-mata Hukum.
Gejala ini sudah lama terjadi. Syari'ah yang bermakna 'seluruh ajaran agama,' berubah menjadi hukum. Fiqih yang artinya pemahaman seluruh ajaran agama, menyempit menjadi sebatas pemahaman atas hukum. Maka tidak aneh kalau Fakultas Syari'ah itu sama dengan Fakultas Hukum. Anjuran kembali ke Qur'an-Hadis itu maksudnya adalah kembali kepada Hukum.
Hukum-Oriented ini hanya cocok bagi umat yang bermental BUDAK. Yaitu umat yang tidak punya kesadaran disiplin diri (self discipline). Hukum menjadi alat 'pemukul' agar orang2 bermental budak itu mau bergerak. Maka sabda Nabi, al-'abdu yudrabu bi al-'ashaa wa al-hurru yakfiihi bi al-isyaarah, budak itu dipukul dengan tongkat, sementara orang merdeka cukup dengan isyarat (komunikasi).
Hukum-oriented ini jika terus-terusan digalakkan (diwacanakan) bisa berbahaya. Seperti kasus Hitler di Jerman. Sebelum muncul Hitler, sudah ada ratusan atau bahkan ribuan filosof-filosof terkenal. Bangsa itu sudah sangat beradab. Tapi, ketika Hitler datang dengan popaganda bahwa manusia selain orang Arya adalah setengah manusia (subhuman), manusia-manusia Jerman yang beradab itu berubah menjadi BIADAB. Kepalsuan menjadi kebenaran. Akibatnya ribuan nyawa melayang.
Dalam surah al-Fatihan, para mufassir biasa memaknai orang yang dibenci Tuhan (al-magdhuub 'alaihim) dengan orang-orang Yahudi, dan yang sesat itu (al-Dhdhaaliin) adalah orang-orang Nasrani. Jika timbangan keseimbangan Islam itu terlalu condong ke kiri, kita menjadi mirip Yahudi. Menjadi orang-orang yang dibenci. Naudzubillah min dzaalik.
Gejala ini sudah lama terjadi. Syari'ah yang bermakna 'seluruh ajaran agama,' berubah menjadi hukum. Fiqih yang artinya pemahaman seluruh ajaran agama, menyempit menjadi sebatas pemahaman atas hukum. Maka tidak aneh kalau Fakultas Syari'ah itu sama dengan Fakultas Hukum. Anjuran kembali ke Qur'an-Hadis itu maksudnya adalah kembali kepada Hukum.
Hukum-Oriented ini hanya cocok bagi umat yang bermental BUDAK. Yaitu umat yang tidak punya kesadaran disiplin diri (self discipline). Hukum menjadi alat 'pemukul' agar orang2 bermental budak itu mau bergerak. Maka sabda Nabi, al-'abdu yudrabu bi al-'ashaa wa al-hurru yakfiihi bi al-isyaarah, budak itu dipukul dengan tongkat, sementara orang merdeka cukup dengan isyarat (komunikasi).
Hukum-oriented ini jika terus-terusan digalakkan (diwacanakan) bisa berbahaya. Seperti kasus Hitler di Jerman. Sebelum muncul Hitler, sudah ada ratusan atau bahkan ribuan filosof-filosof terkenal. Bangsa itu sudah sangat beradab. Tapi, ketika Hitler datang dengan popaganda bahwa manusia selain orang Arya adalah setengah manusia (subhuman), manusia-manusia Jerman yang beradab itu berubah menjadi BIADAB. Kepalsuan menjadi kebenaran. Akibatnya ribuan nyawa melayang.
Dalam surah al-Fatihan, para mufassir biasa memaknai orang yang dibenci Tuhan (al-magdhuub 'alaihim) dengan orang-orang Yahudi, dan yang sesat itu (al-Dhdhaaliin) adalah orang-orang Nasrani. Jika timbangan keseimbangan Islam itu terlalu condong ke kiri, kita menjadi mirip Yahudi. Menjadi orang-orang yang dibenci. Naudzubillah min dzaalik.
Langganan:
Postingan (Atom)