Saya termasuk orang yang
mempercayai bahwa perilaku manusia itu selalu berulang dan berevolusi. Evolusi
ini juga terjadi pada struktur fisik manusia. Walaupun pada perdebatan akan
asal-usul manusia saya cenderung berpegang pada kitab suci, bahwa ada nenek
moyang manusia yang bernama Adam. Tidak sebagaimana yang disinyalir Darwin
dalam On the Origin of Species, bahwa manusia berasal dari jenis
primata. Evolusi struktur fisik itu menurut saya terjadi dalam bentuk yang
sederhana sebagai kelanjutan dari gen manusia yang berkembang bersama kondisi
alam yang mengitarinya.
Selasa, 21 Agustus 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Puasa : Menemukan Stop-kontak Hidup
Alhamdulillah sampai batas kesadaran
terakhir ini kita masih meyakini pentingnya menjalankan ajaran-ajaran agama.
Ini tentunya memuat semacam petunjuk bahwa kita bukan sebentuk manusia yang
lupa akan sangkan paran, asal-usul dan tujuan hidup. Kita adalah
manusia eling yang tidak turut edan dalam kompleksitas kegalauan.
Tidak larut berebut, mengunyah, dan menelan irisan dunia yang tidak memberi
banyak makna tatkala roh kita disentak dari badan.
Selasa, 15 Mei 2012
Nyai Ahmad Dahlan: Perjuangan Meninggikan Harkat Perempuan
A. Pendahuluan
“Tidak ada yang lebih tajam menilai
daripada orang yang tidak terdidik. Dia tidak tahu argumen maupun argumen
kontra, namun selalu percaya bahwa dirinya benar.”- Feuerbach [1]
Perempuan dalam banyak hal selalu menjadi yang kedua
sesudah laki-laki. Terutama pada zaman gerakan pembaruan di Indonesia. Dari sederet
nama yang tercatat dalam sejarah, hanya segelintir tercantum nama perempuan.
Perempuan ketika dihadapkan dengan dominasi laki-laki menjadi istitsna,
pengecualian. Adalah wajar, karena jenis makhluk yang setara dengan laki-laki
dari perempuan termasuk langka.
Minggu, 20 November 2011
Metodologi Pengilmuan Islam Kuntowijoyo
Preambule
Karl Marx (1818-1883) berkata: “Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt darauf an, sie zu verändern,” Para filosuf tidak lebih daripada sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah bagaimana mengubahnya.[1]
Sejalan dengan kehendak Marx untuk merubah dunia, Kuntowijoyo juga memiliki niat serupa, menurutnya, ilmu-ilmu sosial profetik yang digagasnya bukan hanya bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena sosial, tetapi juga merubahnya. Bahkan tidak sampai di situ, ilmu ini juga memberi petunjuk ke arah mana perubahan itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa.[2]
Kehendak dan Kehendak
Banyak ilmuwan dari berbagai disiplin keilmuan mencoba memetakan kehidupan manusia, tapi tetap saja bersifat parsial. Tidak ada yang tuntas. Para filosuf pun sudah lama bergelut pada bidang yang sama, mencoba mencari hukum-hukum universal mengenai manusia, dan hasilnya tetap tidak tuntas. Jangankan para ilmuwan atau filosuf, agama pun tidak berbicara secara tuntas mengenai manusia.
Kamis, 10 November 2011
Neraka tidak Ada....?
Memahami manusia Indonesia itu memang rumit. Perlu bekali-kali membaca ulang fenomenanya baru bisa mendapatkan pemahaman. Tapi ada satu kerangka pikir yang cukup simpel –meminjam paradigma Emha Ainun Nadjib- untuk bisa dikenakan dalam menilai manusia Indonesia, yaitu bahwa mereka cenderung menganut filosufi materialisme; di mana dalam memandang diri acap menggunakan ukuran-ukuran badani dan indikator-indikator sosial budaya. Dirinya adalah badannya, hidungnya, matanya, kakinya, payudaranya, rambutnya dan semua anasir biologisnya.
Selasa, 08 November 2011
Kun Marfu’an
Menarik untuk diketengahkan, tentang filsafat hidup dari ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) yang diajarkan oleh K.H. Iman Zarksyi, salah satu pendiri Pondok Modern Gontor, kepada santri-santrinya. Yang menurut saya, ini sederhana, mudah untuk dicerna, dan sangat mengena.
Langganan:
Postingan (Atom)